Rabu, 29 Mei 2013

Membatasi Kerugian, Bukan Mempercepat Kerugian

Saya sengaja memilih topik tentang Stop Loss, karena banyak temen-temen trader, terutama trader pemula (newbie) yang “kapok” menggunakan fasilitas Stop Loss  Kebanyakan menganggap bahwa Stop Loss itu “mempercepat” kerugian  dan menganggapnya sebagai  biang keladi atas hasil negatif dari open position yang diambil sehingga modal tergerus sedikit demi sedikit . Dengan alasan itulah, banyak yang akhirnya nekad bertrading tanpa Stop Loss

Saya bilang "nekad" karena Stop Loss ini sebenarnya berfungsi seperti halnya rem bagi yang belajar naik sepeda. Bayangkan kalau orang belajar naik sepeda tanpa rem, ya... babak belurlah jadinya...   Trading tanpa Stop Loss memang sekilas terlihat menggoda, karena kita merasa tidak pernah “salah posisi”.  Memang secara umum harga biasanya bergerak naik-turun pada range tertentu, jadi  ada kalanya memang setelah floating minus akhirnya kita dapet profit juga.  Pada akhirnya banyak temen-temen newbie yang berpikir:  weh, berarti aman doong... biarin aja posisi terfloating, ntar juga akhirnya profit juga...   Eits, tunggu dulu...  ada saat tertentu ketika harga kembali pada posisi semula setelah goyang cukup jauh. Memangnya mau, untuk mendapatkan plus 5 pips, sebelumnya floating minus 300 pips dulu?  Hehehe… Itu juga kalau masih ada “nasib baik”...   bisa jadi malah lebih duluan Margin Call yang datang daripada  profit... Stop Loss  itu dimaksudkan untuk melindungi kita dari kerugian yang terlalu besar.  Jangan sampai kita mengalami "cuma sekali salah posisi"...   Lah, kok “cuma sekali salah posisi”?  Iya...  maksudnya cuma sekali salah posisi trus langsung kena Margin Call, alias abis modal...  trus abis itu kapok dan pensiun jadi trader Ok deh… anggap  kita sudah sepakat bahwa Stop Loss itu memang perlu. 

Sekarang  masalahnya, berapa sih Stop Loss yang tepat? Wah, kalau untuk menentukan berapa pointyang tepat, terus terang saya nggak  sanggup...  Saya cuma bisa menyarankan untuk coba memperhatikan hal-hal berikut:
  • Cobalah liat range pergerakan  harian dari pair yang kita ambil.  Masing-masing pair punya sifat berbeda. Misalnya: kalau untuk EUR/USD, mungkin SL 30 point sudah cukup, tapi kalau untuk GBP/JPY?  weh, sebentar juga dah kesabet tuh... 
  • Alternatif lain, kita bisa memanfaatkan titik parabolic SAR di awal trend sebagai patokan penentuan Stop Loss
  • Atau,  kita bisa memakai level-level pada Fibonacci Retracement sebagai patokan penentuan TP maupun SL
  • Satu hal yang pasti, tetapkan SL sebesar berapa dollar "yang sanggup kita relakan" apabila kita salah posisi
Apa yang saya sarankan di atas itu cuma contoh... masing-masing trader berhak mementukan “nasib”nya sendiri...    Semuanya tergantung dari trading plan dan indikator yang digunakan masing-masing trader

Oya, ada satu hal lagi yang perlu dipahami sehubungan dengan Stop Loss. Besaran range SL  akan berpengaruh pada derajat keyakinan kita akan keberhasilan pencapaian TP. Maksudnya? Begini... saya langsung kasih contoh ya...  Misal hasil analisis kita menyatakan GBP/JPY  akan naik sebanyak 50 point.  Ok, kita tetapkan TP sebesar 50 point. Terus, bagaimana dengan SLnya? Apabila kita menentukan SL sebesar 30 point, maka derajat keyakinan kita akan tercapainya TP cuma sekitar misal 40%, alias nggak terlalu yakin TP bakal tercapai. Nah, kalau SL kita tambah menjadi sebesar 50 point, derajat keyakinan naik menjadi misal 50% atau fifty-fifty lah antara TP atau SL yang kesentuh duluan. Nah,  kalau SL kita ditambah lagi, menjadi misalnya 150 point, maka derajat keyakinan kita naik lagi menjadi 100% atau kita yakin 100% bahwa TP akan tercapai karena SLnya cukup jauh untuk kesentuh duluan. Jadi semakin lebar range SL, semakin tinggi derajat keyakinan kita bahwa TP akan tercapai Itulah mengapa, banyak trader terpancing untuk melakukan Open Position  tanpa SL . Ya iyalah..., "pasti" tercapai  TP, lah floating negatif sampai ratusan pips juga “dipelihara” dengan TP cuma 5 pips...  hehehe…  Satu-satunya batasan floating negatif ya cuma available margin... Saya sering bercanda dengan menjuluki trader semacam ini sebagai trader penganut keyakinan Stop Loss = Margin Call  Yah, sebenarnya ini hak masing-masing trader sih... cuma, terus terang, saya sedih melihat banyak temen-temen trader yang berguguran karena kena MC gara-gara trading tanpa SL ini Saran saya, lebih baik kita segera tahu bahwa kita salah posisi dan cepet-cepet memperbaikinya. Biasanya, kalau sudah terlanjur terfloating minus banyak pips,  kita cenderung tidak tega untuk melakukan Cut Loss... malahan pasrah nunggu datangnya Margin Call sambil berharap-harap cemas harga berbalik arah... hehehe…  Yakin deh… yang kayak gini nggak enak banget loh…

Seputar Forex

1 komentar:

Sony Prasetya on 30 Mei 2014 22.02 mengatakan...

Betul, terkadang SL ini sering diartikan untuk mempercepat kerugian di forex, padahdal SL ini bisa dimanfaatkan untuk meminimalisir kerugian. Biasanya SL yang cepat tersentuh itu karena pemasangannya asal. Dan biasanya juga saya sendiri menggunakan TP juga, cuma SL TP ini saya gunakan saat menahan posisi cukup lama, kalau scalping ya tidak. Kalau tidak mau menggunakan SL, harus siap cut loss juga, dan ini sangat membutuhkan psikologi trading yang baik. Saya sendiri pernah mencobanya juga, alhasil akun saya di OctaFx malah kena MC.

 

Waroenk Bersama Copyright © 2011-2014 Waroenk Bersama is Designed by REDAKSI WAROENK BERSAMA for WoodMag